Artikel

Kalau Handphone Itu Penting, Bagaimana Dengan Diri Sendiri?

handphone

Teman – teman sekalian, setujukah jika handphone sekarang ini sudah menjadi kebutuhan pokok? Benda ini dimiliki oleh hampir semua orang, bahkan cenderung tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari – hari kita. Setiap hari, baik saya maupun teman-teman pastinya sering menggunakannya, entah itu untuk sekedar telepon, membuka instagram, facebook, whatsapp, ataupun BBM. Jika kita lupa membawa handphone, pastinya kita akan kembali ke rumah untuk mengambilnya.

Nah sekarang pertanyaannya: jika handphone kita rusak dan tidak dapat diperbaiki, akankah kita membeli handphone baru?

Tentunya sebagian besar dari kita pasti menjawab: Ya, karena handphone sudah menjadi kebutuhan pokok. 

Jika handphone menjadi kebutuhan, bagaimana dengan polis asuransi? sudahkah teman – teman memperlakukannya sebagai kebutuhan?

Masih banyak diantara kita yang minim pemahaman dan kurang peduli akan asuransi, bahkan survey membuktikan hanya 2% dari total penduduk Indonesia yang memiliki polis, dan 95% dari orang tersebut tidak mengetahui isi polisnya.

Sebagai seorang agen asuransi, saya ingin memberikan edukasi asuransi kepada masyarakat, terlepas dari nama perusahaan asuransi apapun itu, saya berharap masyarakat Indonesia semakin hari semakin terbuka wawasannya dan mengerti serta sadar asuransi.

Saya ingin memberikan manfaat untuk membantu keluarga yang membutuhkan dana tunai disaat dana tunai itu sangat diperlukan.

Harapan saya kedepannya akan semakin banyak masyarakat yang memperlakukan asuransi sebagai kebutuhan pokok.

Semoga tulisan ini dapat membuka pikiran teman-teman.

Salam,

Caroline
Allianz Life Indonesia
SMS/WA: +628551140663
ca12olin3@gmail.com

 

Advertisements
Artikel

Pengalaman Pak Taro & Ibu Yanti

taro-yanti

Satu hal yang patut saya syukuri bisa mendegarkan langsung cerita pengalaman dari Ibu Yanti dan Bapak Taroyo tentang bagaimana asuransi telah mengubah pikiran dan kehidupan mereka.

Pasangan Taro & Yanti awalnya sangat anti dengan asuransi.  Memang banyak kenalan mereka yang berprofesi sebagai agen asuransi. Pada saat itu Taro & Yanti menekuni MLM, dan kerap kali menghindar setiap ada agen yang menghubungi mereka. Asuransi yang mereka milikipun hanya seadanya, tanpa paham isinya, maklum karena hanya beli dengan alasan merasa tidak enak dengan kenalan.

Kejadian pertama berawal dari mama dari Ibu Yanti terkena kanker tiroid, dibawa berobat ke Singapura, jumlah biaya pengobatan setelah dikurs ke Rupiah mencapai 300 juta. Apa boleh buat, demi sang mama, tidak ada pilihan selain menggesek kartu kredit demi melunasi tagihan. Peristiwa ini pun belum membuka mata mereka akan pentingnya asuransi.

Beberapa waktu berlalu sampai di tahun 2013 kejadian lain menimpa pasangan ini, kali ini papa dari Pak Taro terdiagnosa penyakit jantung, dan pihak rumah sakit mengharuskan papanya pasang 7 ring. Dikarenakan Pak Taroyo awam mengenai biaya pasang ring, bertanyalah ia mengenai harga pasang ring, dan betapa kagetnya waktu dia mendengar harga per ringnya.

“50 juta per satu ring jantung dan demi pengobatan papa harus pasang 7 ring, coba bayangkan biaya mencapai 350 juta dan itupun belum termasuk biaya dokter.” kata pak Taro

Yang lebih mangegetkan, ada DP sebesar 250 juta yang diminta oleh pihak rumah sakit. Tak ada pilihan, maka Pak Taro pun mneggesek kartu kreditnya. Sampai papanya keluar dari rumah sakit, total biaya mencapai 750 juta. Betapa mahalnya biaya pengobatan jika harus menggunakan penghasilan sendiri!

Kejadian inilah yang memberikan titik balik mereka akan pentingnya punya asuransi.

Mulailah mereka menghubungi kenalan-kenalan mereka yang berprofresi sebagai agen asuransi, dan juga minta proposal untuk dibandingkan.

Hasil dari pebandingan, pilihan mereka jatuh kepada Allianz. Mengapa?

Belajar dari pengalaman yang sudah terjadi, mereka paham bahwa sakit kritis bisa mengenai siapa saja, kapan pun, dan biaya pengobatannya sangatlah mahal. Di Allianz, proteksi penyakit kritis diberikan uang tunai yang besar dengan premi yang terjangkau. Tanpa asuransi yang memberikan proteksi besar, finansial mereka akan menurun drastis karena tidak punya uang besar. Kemudian mereka memutuskan untuk menjadi nasabah Allianz.

Apakah cerita habis sampai disini? BELUM!

Di tahun 2016, papanya Pak Taro kembali mengalami penyakit kritis dengan diagnosa Aneurisma, dimana merembesnya darah di otak akibat dari pembuluh darah yang pecah.

Hidup pak Taro & Bu Yanti benar-benar terkena badai yang berdampak pada finansial mereka.

Pihak rumah sakit mengharuskan DP sebesar 360 juta untuk dapat melakukan tindakkan. Total biaya pengobatan habis sebesar 800 juta! Bayangkan saja, angka tersebut seharga mobil BMW. Ibaratnya punya mobil BMW tapi tidak pernah merasakan bagaimana BMW itu.

Kejadian ini semakin memberikan mereka kesadaran untuk mengetahui lebih lanjut mengenai asuransi.

Dari semua asuransi, banyak yang menawarkan manfaat pengobatan kesehatan selama di rumah sakit. Hal ini tidak salah, namun pasangan ini berpikir bagaimana dengan biaya setelah keluar dari rumah sakit? apakah biaya pengobatan berhenti? TIDAK!

berkaca kembali kepada Aneurisma sang papa, dimana masih ada biaya obat-obatan dan terapi yang diperlukan setelah keluar rumah sakit, harganya mencapai 8 juta per bulan, dan tidak dibayarkan oleh asuransi kesehatan. Untuk itulah diperlukan uang tunai yang besar, yaitu dari Allianz.

Pasangan ini bersyukur bisa diperkenalkan dengan Allianz, dan mereka pun bergabung dengan bisnis Allianz dengan tujuan awal membantu keluarga mereka untuk punya proteksi besar dari Allianz.

Kalau tidak punya asuransi, dan kita sendiri yang menjadi perusahaan asuransi pada saat musibah terjadi, maka resiko akan ditanggung kita. Mengapa harus kita yang mananggung jika ada pihak yang bersedia menanggung resiko?

Tanpa latar belakang marketing, baik Pak Taro & Bu Yanti tanpa lelah terus menerus berbagi pengalamannya guna membuka mata & pikiran orang diluar sana akan pentingnya memiliki proteksi besar.

Rasa syukur pun mereka ucapkan setiap hari karena bisa bergabung dengan bisnis Allianz, disamping sharing dengan orang lain, pasangan ini merasakan peningkatan pendapatan serta kebebasan waktu.

Saat ini sudah 5 tahun mereka bergabung, dan berjuang bersama keluarga BUSS APL yang selalu wiling to help. Dalam menjalankan bisnis asuransi, pasangan ini selalu mengingatkan teman-temannya agar jangan sampai jatuh di lubang yang sama.

Dulu asuransi hanya asal punya, tidak tahu apa isinya. Saat ini kita wajib sharing ke mereka yang belum paham asuransi, kita edukasi mereka.

Doa saya, Caroline Brawidjojo agar pasangan ini semakin dilimpahkan berkat dari Tuhan dan semakin banyak yang memahami pentingnya asuransi.

Semoga tulisan ini bermanfaat

Salam,

Caroline
Allianz Life Indonesia
SMS/WA: 08551140663
ca12olin3@gmail.com